Dari Skala Nano ke Industri:Nanotechnology Hadir diFarmasi Klinis Unbrah

“apt. Benni Iskandar, S.Farm., M.Si., Ph.D — pakar nanotechnology dari STIFAR Riau — membawa wawasan mutakhir tentang masa depan ilmu farmasi dan industri kosmetik langsung ke hadapan mahasiswa Universitas Baiturrahmah”

Padang — Program Studi Farmasi Klinis, Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes), Universitas Baiturrahmah (Unbrah) sukses menyelenggarakan Kuliah Tamu bertema “Nanotechnology in the Pharmaceutical Sciences and Cosmetic Industry” pada Kamis, 21 Mei 2026. Bertempat di Smart Class Unbrah Lantai 5, kegiatan ini menghadirkan apt. Benni Iskandar, S.Farm., M.Si., Ph.D — dosen Program Magister Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi (STIFAR) Riau — sebagai narasumber utama.

Sekitar 80 mahasiswa dari semester II, IV, dan VI memadati ruangan dengan antusias sejak pagi hari. Kegiatan dibuka secara resmi oleh Dekan Fikes Unbrah, dilanjutkan pengenalan narasumber oleh moderator, sebelum sesi materi inti berlangsung selama hampir dua jam penuh.

Konsep & Inovasi

Dalam paparannya, apt. Benni Iskandar membuka kuliah dengan mengurai konsep dasar nanotechnology — ilmu yang memanipulasi materi pada skala 1 hingga 100 nanometer. Pada skala tersebut, hukum fisika klasik mulai bergeser; material memperlihatkan sifat fisis, kimia, dan biologis yang jauh melampaui versi konvensionalnya. Inilah, tegasnya, yang menjadikan nanotechnology bukan sekadar tren ilmiah, melainkan lompatan paradigma.

Narasumber kemudian mengulas klasifikasi sistem nanopartikel yang telah mengubah lanskap farmasi global: nanopartikel polimer, liposom, solid lipid nanoparticles (SLN), nanostructured lipid carriers (NLC), hingga dendimer. Masing-masing membawa keunggulan dalam mengatasi kelemahan formulasi konvensional — mulai dari peningkatan bioavailabilitas obat yang buruk larut air, penghantaran bertarget ke sel kanker (targeted drug delivery), hingga pelepasan terkontrol (controlled release) yang meminimalkan efek samping sistemik.

Bahasan kemudian bergerak ke industri kosmetik — arena yang kini menjadi salah satu pasar terbesar penerapan nanotechnology. Enkapsulasi bahan aktif seperti antioksidan, vitamin C, retinol, dan UV-filter dalam nanopartikel terbukti mampu meningkatkan penetrasi ke lapisan kulit yang lebih dalam, memperpanjang stabilitas formula di bawah paparan cahaya dan suhu, serta mengoptimalkan efektivitas produk sunscreen, anti-aging, dan moisturizer generasi terkini.

Narasumber mencontohkan produk-produk nano-farmaseutika yang telah beredar di pasar global — termasuk sistem liposomal untuk doxorubicin dan nanopartikel albumin untuk paclitaxel — sebagai bukti nyata bahwa teknologi ini bukan lagi konsep laboratorium, melainkan realita klinik.

Diskusi & Tanya Jawab

Mahasiswa Semester V

“Apakah produk kosmetik berbasis nanopartikel sudah aman digunakan secara rutin?”

Narasumber menjelaskan bahwa keamanan sangat bergantung pada jenis nano-material, ukuran partikel, dan rute paparan. Uji toksikologi wajib dilakukan sebelum komersialisasi, dan tidak semua nanopartikel bersifat inert terhadap kulit dalam jangka panjang.

Penutup

Kegiatan ditutup dengan penyerahan cinderamata dari Kaprodi Farmasi Klinis kepada narasumber, disusul sesi foto bersama yang penuh kehangatan. Kaprodi menyampaikan harapan agar forum akademik semacam ini terus menjadi jembatan yang menghubungkan mahasiswa Unbrah dengan perkembangan ilmu farmasi di level global — dan bahwa benih kolaborasi yang ditanam hari ini akan tumbuh menjadi riset nyata yang bermanfaat bagi masyarakat luas.

“Kuliah Tamu ini adalah bagian dari komitmen Program Studi Farmasi Klinis Fikes Unbrah dalam mempersiapkan lulusan yang tidak hanya kompeten secara klinis, tetapi juga melek terhadap inovasi ilmu pengetahuan dan teknologi farmasi terkini.”